Hadirkan Wartawan, Ornop dan Mahasiswa, Bawaslu Polman Diksusikan Pengawasan Partisipatif
|
POLMAN – Minus tiga belas hari menjelang penyelenggaraan Pemilihan serentak tahun 2024, Bawaslu Polewali Mandar hadirkan mitra koalisi strategisnya yang terdiri dari wartawan, organisasi non pemerintah (ornop) serta sejumlah aktivis mahasiswa mendiskusikan pentingnya pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal dalam kegiatan bertema sosialisasi pengawasan partisipatif Pemilu 2024.
Dalam acara yang digelar, Rabu 13 November 2024 di salah satu hotel di Polewali itu, selain menghadirkan dua pemateri yakni, Abdul Muttalib akademisi, penulis dan pekerja seni budaya itu, secara khusus hadir pula KH. Mas’ud Shaleh wakil sekretaris jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar (PB) Nadhlatul Ulama (NU) sebagai nara sumber kunci yang secara kebetulan tengah berada di Polewali Mandar.
Harianto, ketua Bawaslu Polewali Mandar dalam sambutan pengarahannya pada pembukaan kegiatan itu menyampaikan harapannya, agar kegiatan itu selain sosialisasi juga digelar diskusi terfokus yang membincang tawaran operasional pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal.
“Kita berharap dalam kegiatan ini, selain penambah pemahaman melalui sosialisasi, juga bisa mendiskusikan dan menghasilkan output tawaran konsepsional dan operasional berupa buku saku pengawasan berbasis kearifan lokal,” ujarnya.
Harianto mengatakan, buku saku pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal yang dihasilkan itu nantinya, bisa menjadi bahan bacaan, menjadi peninggalan.
“Menjadi sesuatu yang bisa dikenang bahwa kita pernah dan telah berkumpul bersama dalam membahas pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal,” bebernya.
Lanjut dikatakannya, kegiatan pengawasan partisipatif itu sesungguhnya telah lama diagendakan, hanya saja, baru dilaksanakan dikarenakan banyak agenda pengawasan yang dilaksanakan oleh Bawaslu Polman.
Dirinya berharap, dari kegiatan itu bisa menyumbangkan sumbangsih desain pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal, dari sahabat-sahabat yang terundang sebagai peserta aktif. Sehingga kelak hal itu bisa menjadi sesuatu tinggalan yang berbeda dengan daerah lain.
Senada dengannya, MS Tajuddin koordinator sekretariat Bawaslu Polewali Mandar dalam laporan pembukaan acara itu menyampaikan, ucapan terima kasihnya kepada sekitar 50 orang peserta yang telah berkenan hadir dan bisa ikut berbagi pengalaman serta pengetahuannya dalam merumuskan kerja bersama dalam pengawasan partisipatif berbasis kearifan lokal.
“Intinya kami berharap sosialisasi ini sampai di Masyarakat melalui teman-teman peserta aktif di kegiatan ini, bahwa kita semua bersama penyelenggara pengawasan Pemilu dan Pilkada telah sama bisa menularkan semangat untuk sama membangun demokrasi ini lebih baik dari pada sebelumnya,” ujarnya.
Lanjut dikatakan MS Tajuddin, kendati Pemilu dan Pemilihan adalah momentum sakral, namun sebaiknya, para peserta mampu menebarkan semangat bahwa, Pemilu dan Pemilihan kendati merupakan momentum sakral, namun tidak mesti membuat warta tegang dan berada dalam situasi yang saling bermusuhan hanya lantaran berbeda pilihan.
“Sakral namun tidak lantas harus menegangkan dan membuat kita bermusuhan. Artinya hendaknya Pemilu dan Pemilihan membuat kita saling menyayangi walaupun berbeda pilihan karena kita sama menginginkan pemimpin yang baik untuk daerah kita,” bebernya.
Wasekjen PB NU
Sementara itu, KH Mas’ud Shaleh Wasekjen PB NU dalam pemaparan materinya, mengaku bahwa kegiatan yang dihadirinya itu, baginya adalah ruang belajar bersama.
“Ini semangatnya adalah belajar, semangatnya silaturahim, semangatnya menyumbangkan ide-ide apa yang harus kita lakukan dalam pengawasan, agar kita mampu menjadikan demokrasi kita kian berkualitas. Acara ini sangat baik menjadikan diskusi dalam pengawasan untuk melahirkan sesuatu warisan yang baik bagi anak-anak cucu kita ke depan,” ujarnya.
Karena itu, lanjut KH Mas’ud Shaleh semua peserta yang hadir adalah sama-sama memanggul mandat nilai yang sama.
Dan saya maksudkan nilai kearifan yang sama itu adalah, kita sama-sama bisa hadir karena kita nilai kita sama yakni sama berniat baik. Karena nilai ini dalam pandangan saya itu, universal. Dan yang menyatukan kita disini adalah nilai niat baik itu. Menyalamatkan satu manusia sama halnya menyelamatkan seribu manusia, sebaliknya mencelakakan satu manusia sama halnya mencelakakan semua orang,” bebernya seraya sesekali mengutip pesan leluhur Mandar.
Lanjut dikatakannya, Bawaslu sebagai lembaga negara telah tepat mengajak para pihak untuk sama berpartisipasi.
“Saya memahami, Bawaslu melalui kegiatan ini telah memposisikan dirinya secara tepat sebagai lembaga pengawas yang berharap kita semua ikut berpatisapasi dalam demokrasi yang positif. Pitu ulunna salu dan pitu ba’bana binanga sama-sama menggunakan filosofi sifat Mandar. Beda pilihan itu niscaya, dan itu biasa-biasa saja. Tetapi yang penting kita tanamkan dalam diri kita, bahwa kita semua adalah saudara. Karena itu sama memiliki kewajiban dalam penentukan demokrasi yang baik,” ujarnya.
Juga disampaikan olehnya, hendaknya kegiatan serupa kembali dilaksanakan dan tidak sebatas dalam hanya tahapan Pemilu dan Pemilihan.
“Saya berharap setalah hari H Pemilihan ini, kita buat lagi agenda ini menjadi bahan evaluasi kita. Karena tidak akan sama kita berdiskusi sebelum Pilkada atau Pemilu dengan sesudahnya. Artinya kalua diluar tahapan kita bisa lebih bebas mengungkapkan kenyataan diri kita masing-masing. Apakah kita menjadi bagian dari merusak demokrasi atau bukan,” ujarnya sambil berharap, melalui kegiatan itu tercapai ujuannya untuk mendapat nilai.
“Karena kita tidak dapat merumuskan sesuatu kalau tidak ada nilai bersama yang kita miliki,” tandas KH Mas'ud Shaleh pada kegiatan yang dilanjutkan ke jam kedua dan berakhir sekitar pukul 17.30 wita dengan menghadirkan Abdul Muttalib membawakan materi “Perumusan Desain Pengawas Partisipatif Berbasis Kearifan Lokal” yang selain diisi pemaparan juga diisi dengan diskusi kelompok dan presentasi masing-masing kelompok.
Penulis: Yusran
Foto: Irwan dan Asyrul